Menatap 2010, Semakin Optimis!

07 Januari 2010


Oleh: Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

“We will open the book. Its pages are blank. We are going to put words on them ourselves. The book is called Opportunity and its first chapter is New Year's Day.”-- Edith Lovejoy Pierce
POSTER berisi pesan singkat terpasang di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat beberapa hari menjelang pergantian tahun baru 2010. Isinya jelas, tidak bertele-tele: ‘2010: Semakin Optimis’. Tak hanya rakyat Indonesia, seluruh dunia pun sepakat untuk menatap tahun 2010 dengan penuh harapan dan optimisme. Dua hal yang telah lumrah menjadi resolusi setiap kali membuka lembaran tahun baru. Tetapi kali ini, dalam menyongsong tahun baru, harapan dan optimisme nampaknya lebih keras lagi didengungkan dari seluruh penjuru dunia. Hal itu bukannya tanpa sebab. Berbagai bencana yang menimpa umat manusia datang silih berganti sepanjang tahun 2009. Mulai dari bencana alam, bencana finansial, hingga bencana yang ditimbulkan oleh ulah keji manusia sendiri.

Bencana alam terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali di negeri sendiri. Badai salju yang menerjang Eropa di penghujung tahun menjelang natal yang telah menewaskan puluhan orang, seakan menutup tahun dengan penuh kepedihan. Menurut PBB, tahun ini diperkirakan 9 ribu orang tewas dan sekitar 58 juta orang lainnya mengalami kerugian yang tak sedikit akibat bencana alam yang terjadi: banjir, badai, gelombang panas, dan kondisi iklim ekstrim lainnya. Dalam sebuah kajian yang dipresentasikan di KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, banyak dari ke 245 situasi iklim yang ekstrim itu diakibatkan atau nantinya dapat diperparah oleh perubahan iklim.

Krisis ekonomi yang dimulai dari negeri Paman Sam masih terasa dampaknya hingga tahun 2009. Walau demikian, Indonesia patut bersyukur, bersama dengan Cina dan India, ekonomi Indonesia dianggap sebagai salah satu ekonomi yang paling stabil dan menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang positif dan perbaikan yang lebih cepat dibandingkan dengan negara lain di dunia. Berpijak dari keadaan ekonomi tahun 2009, Pemerintah Indonesia pun optimis pertumbuhan ekonomi di tahun 2010 akan mencapai 5,5%. Bandingkan dengan tahun 2009, dimana Pemerintah hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi 4,5%. Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 dapat mencapai 5,9 persen.

Sementara itu, bencana tak hanya disebabkan oleh alam. Bencana yang paling menyakitkan ialah bencana kemanusiaan yang disebabkan ulah tangan kotor manusia sendiri. Kedamaian dunia diusik oleh tindakan brutal bom bunuh diri di Timur Tengah dan negara-negara sekitarnya, serangan brutal di Nigeria, hingga kekacauan politik di Filipina, membuat dunia terasa jauh dari kedamaian.

Tak heran bila sejarah kelam sepanjang tahun 2009 dijadikan pelajaran berharga bagi seluruh umat manusia dan jangan sampai terulang kembali. Dan tak salah bila hampir seluruh pemimpin dan tokoh dunia ramai-ramai mengangkat harapan dan optimisme sebagai resolusi untuk menatap tahun 2010 dengan lebih baik.

Sambutlah tahun baru 2010 dengan lebih optimis. Penuh percaya diri dalam mengatasi segala persoalan yang menghadang. Tak lupa pula untuk selalu mensyukuri nikmat yang ada dan mengapresiasi setiap hasil dan jerih payah yang telah dilakukan, walau sekecil apapun.

Optimisme dalam menatap hari depan yang lebih baik, dan mengapresiasi apa yang telah didapatkan, tak melulu milik mereka kaum dewasa, yang memiliki profesi tertentu, atau yang tinggal di perkotaan. Tapi juga seharusnya dimiliki oleh generasi muda saat ini. Tengoklah Apep Nurhalim, 15 tahun, pelajar kelas VII SMP Negeri Jelegong, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis dalam menatap hari esok yang lebih baik. Setiap pagi Apep harus bangun pukul empat pagi dini hari. Jika telat bangun, Apep dipastikan terlambat masuk sekolah. Tak hanya Apep yang harus berjuang keras agar bisa sekolah di jenjang sekolah menengah di desanya, tetapi ada 27 teman Apep yang melakukan hal yang sama.

Mereka berangkat ke sekolah pukul lima pagi. Selama 2,5 jam, Apep dan kawan-kawannya harus berjalan kaki sejauh 7 km lebih agar bisa sampai ke sekolah. Sepanjang perjalanan, mereka harus berjalan kaki, naik turun gunung yang tentu saja memerlukan tenaga ekstra, serta melintasi dua sungai agar sampai ke tujuan. Mereka melakukan hal tersebut karena tidak ada angkutan umum yang melintas di desa mereka. Bila tidak turun hujan, untuk menyeberangi dua sungai itu tidak ada masalah. Bila hujan turun, apa boleh buat, mereka tak bisa ke sekolah karena bakal tak dapat menyeberangi sungai yang ketinggian airnya tak bisa dilalui. Jadi setiap hari, mereka harus berjalan kaki sejauh 14 km selama 5 jam. Mereka toh tetap melakukan hal tersebut, untuk sebuah alasan agar dapat bersekolah. Bukan hanya optimisme yang ditunjukkan oleh mereka, walau harus bersusah payah menempuh perjalanan jauh untuk menuju sekolah, tetapi mereka tetap bersyukur dapat bersekolah. Bayangkan berapa juta anak Indonesia yang belum beruntung karena tidak dapat bersekolah.

Songsonglah tahun baru dengan penuh keyakinan yang kokoh. Setiap pergantian tahun seringkali kita disarankan untuk melihat dan melakukan introspeksi atas apa-apa yang telah dilakukan di masa lalu. Agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama secara berulang, buatlah hidup ini dengan terencana dan teratur. Buatlah resolusi Anda di tahun baru ini. Tetapkan target apa saja yang harus dicapai selama tahun 2010 ini. Tak perlu muluk-muluk, Anda harus mengukur kemampuan diri Anda sendiri. Dengan adanya target, setidaknya jalan hidup Anda lebih terarah. Karena ada sesuatu yang dituju. Kalaupun akhirnya target Anda meleset, tak perlu kecewa. Buatlah resolusi baru. Resolusi dibuat tentu tidak perlu menunggu tahun baru. Tetap semangat! Selamat Tahun Baru 2010!

Jadilah Ahli Dalam Melakukan Hal-Hal Yang Penting!

12 Desember 2009



Cara terbaik untuk menjadi rata-rata adalah menggunakan cara-cara umum.

Orang memiliki kecenderungan untuk melakukan yang sudah lazim dilakukan oleh orang lain, dan menghindari resiko dari melakukan yang belum pernah dibuktikan keamanan dan jaminan keberhasilannya oleh orang lain.

Tetapi, dengannya kita menjadikan diri kita melakukan yang juga dilakukan oleh banyak orang, dan yang menaruh kita kedalam kelas yang sama dengan orang-orang yang diperlakukan seperti orang kebanyakan.

Jika kita memilih melakukan yang biasa dilakukan oleh orang lain, maka kita sebenarnya mengijinkan orang lain untuk merata-ratakan perlakuan mereka kepada kita.

Padahal, janji bagi kekuatan dan kebesaran hidup kita berada dalam pekerjaan-pekerjaan penting, yang hampir semuanya adalah pekerjaan yang membutuhkan kualitas dan kesungguhan pribadi yang tidak biasa.

Sebuah pekerjaan disebut penting, karena peran dan dampaknya penting bagi perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan orang banyak.

Maka, keterlibatan Anda dalam pekerjaan yang penting bagi kebaikan kehidupan orang lain, akan menjadikan Anda pribadi yang penting.

Tetapi, mungkin karena kita memiliki kecenderungan untuk menghindari hal-hal yang masa penantiannya panjang, yang belum jelas hasilnya, dan yang membutuhkan disiplin pribadi yang baik; kita lebih ramah kepada pekerjaan-pekerjaan kecil, tugas-tugas mudah, dan menyukai kebebasan yang menjauhkan diri dari keteraturan.

Jika tidak berhati-hati, kita akan menjadi ahli dalam melakukan yang tidak jelas hubungannya dengan kualitas hidup yang ingin kita capai.

Karena, bukankah telah banyak orang yang ingin berhasil, tetapi yang dilakukannya tidak menunjukkan bahwa dia akan berhasil?

Maka marilah kita memperhatikan hal-hal yang penting bagi keberhasilan hidup kita, dan melakukan yang penting-penting itu dengan keterampilan yang lebih baik dari yang biasanya dilakukan oleh orang lain di lingkungan kita.

Maka, jadilah pribadi Indonesia yang ahli dalam melakukan yang penting.

...........


Sahabat-sahabat saya yang terkasih,

MINTALAH PUNDAK YANG LEBIH KUAT, BUKAN BEBAN YANG LEBIH RINGAN.

Karena impian-impian hati kita terlalu besar untuk dicapai dengan menggunakan kemampuan kita hari ini, maka marilah kita mendahulukan berdoa agar Tuhan menguatkan kita untuk mengupayakan pencapaian-pencapaiannya.

Berhati-hatilah dengan permintaan untuk dimudahkannya urusan kita, karena itu bisa berarti kita lebih mementingkan mendapatkan apa yang kita minta, daripada mengupayakan diri untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Kita bukanlah pribadi yang hanya meminta beban yang ringan.

Kita meminta beban dan tanggung-jawab yang besar bagi kebaikan kehidupan banyak orang, dan untuk itu – doa bagi kekuatan yang lebih besar – menjadi lebih sesuai bagi kita.

Jika kita meminta kepada Tuhan untuk dimudahkan urusan kita, pastikanlah itu karena kita sedang mengurus banyak hal yang besar dan penting bagi kebaikan kehidupan banyak orang.

Maka,

Mintalah pundak yang lebih kuat, bukan beban yang lebih ringan.

Juli Eko Sarwono, Guru SMP yang Pedagang Bakso

20 November 2009

Pada acara Kick Andy Metro TV, dalam episode Satukan Hati Cerdaskan Bangsa, ditampilkan sosok Bp. Juli Eko Sarwono, seorang guru SMP Negeri 19 Purworejo. Berikut saya informasikan mengenai sosok Bapak Juli yang sudah mengharumkan nama Purworerjo Kota kita tercinta.

JULI Edi Sarwono adalah guru Matematika SMPN 19 Purworejo. Pak Eko, begitu dia biasa dipanggil, adalah sosok yang sangat sederhana. Namun dari kesederhanaannya, kita dapat belajar banyak hal. Di sela-sela kesibukannya sebagai guru, pak Eko juga berdagang bakso di lingkungan tempat tinggalnya.

Sepulang mengajar, beliau berjualan bakso dari pukul 16.00 sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Meskipun sibuk, pak Eko tidak pernah menelantarkan anak didiknya, bahkan dia termasuk salah satu guru SMPN 19 yang paling kreatif. Salah satu bukti kreativitasnya adalah pajangan di kelas.

Ia membuat pajangan tersebut dan dipajangkan beberapa hari di dalam kelas. Pemajangan dilakukan relatif singkat karena ruangan kelas tersebut juga digunakan oleh guru lainnya. Pajangan yang sudah dilepas dari dinding kelas,

disusunnya kembali pada buku besar, seperti terlihat di samping ini. Selain itu, pak Eko juga masih sempat membuat bank soal untuk siswa-siswa kelas sembilan yang akan menghadapi ujian akhir nasional.

Tidak hanya itu, ketika mengajar pada jam-jam akhir sekolah, pak Eko tidak jarang mengajak siswanya belajar di halaman sekolah. Hal ini dilakukan agar siswa tidak bosan dan jenuh. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan.

Pajangan kelas yang dibuat pak Eko disimpan dalam buku. Siswa dan guru bisa melihat dan meminjamnya untuk digunakan pada proses belajar

Sebagian besar siswanya mendapat nilai yang bagus dalam UN. Satu orang siswa mendapatkan nilai sempurna. Apa yang dilakukan pak Eko, menurut pengakuannya, merupakan penerapan dari hasil pelatihan modul dasar DBE3 yang diikutinya beberapa waktu lalu.

Apakah Anda Dibayar Terlalu Murah?

06 November 2009


Salah satu keluhan manusia paling umum adalah tentang betapa murahnya kita dibayar. Keluhan ini muncul terutama ketika surat kenaikan gajirutin kita terima. Betapa kenaikan take-home-pay itu tidak bisa mengimbangi kenaikan kebutuhan hidup kita. Meskipun komplain itu tidak selamanya jelek. Namun, untuk soal gaji kita perlu bertanya lagi; benarkah kita ini dibayar terlalu murah?

Ada sahabat yang getol mengomel tentang gaji. Suatu kali, kami berkesempatan makan siang setelah sekian lama tidak berjumpa. Komplain itu masih menjadi bagian dari dirinya. Lalu saya bertanya; "Memangnya elo digaji berapa?" Sebuah pertanyaan untung-untungan. Tidak dijawab juga tidak apa-apa.

"Yaaa, sekitar segini lah." Saya terbelalak karena dia begitu terbuka dengan gajinya, dan juga karena menurut hemat saya gajinya sudah tergolong besar untuk ukuran pekerjaan dan jabatan yang dia sandang.

"Pren, elu tahu rata-rata pendapatan orang Indonesia itu hanya sekitar $1,600 setahun. Artinya, cuma sekitar satu setengah juta setiap bulan. Lha, elo sudah lebih dari sepuluh kali lipat dari itu."

"Heh, elo jangan anggap gue pekerja kelas bawah gitu ye. Ya nggak berlaku lah rata-rata pendapatan semua penduduk termasuk kelas pekerja kasar dikampung-kampung dan pelosok desa tuch!" dia menukas dengan nada sengit.

"Oke, oke," saya mengangkat tangan. "Tapi, rata-rata pendapatan orang yang kerja di Jakarta pun cuma sekitar $5,167, Man. Empat setengah jutaan doang." Mata saya tertuju kearah piring. Tapi saya tahu teman saya ini melotot. "Gaji elu masih berkali-kali lipat dari itu."

"Heh, boy, udah gua bilang jangan pake rata-rata dong. Kemampuan gue juga kan diatas rata-rata!" katanya. "Dan elo juga sudah dibayar jaoooh diatas rata-rata," tangkis saya. "Ah, susah kali ngomong sama kau tuch!" Saya tidak kaget ketika dia menggebrak meja. Sifat aslinya keluar kalau sedang terdesak. "Orang harus dibayar sesuai dengan kemampuan dan kontribusinya masing- maaaasing!" Gayanya mirip Giant dalam film Dora Emon.

"Wah, kalau yang satu itu gue setuju abis, Man. Masalahnya, elu udah dibayar tinggi, masih komplen juga." Saya bilang. "Atas dasar apa elu merasa pantas mendapatkan bayaran lebih tinggi?"

"Pertama, teman gue." katanya "Diperusahaan lain dibayar lebih tinggi, padahal kemampuan gue nggak kalah dari dia." lanjutnya. "Kedua, gue udah kerja disini lebih dari lima tahun. Maasak, cuma segini-segini doang!"

"Menurut gue," saya meneguk teh botol. "ada satu cara yang lebih objektif untuk menentukan apakah elo dibayar terlalu murah atau tidak." "Gimana?" "Caranya," saya berhenti sejenak. "Elu harus menentukan satu hal.Yaitu; kalau elu tidak bekerja diperusahaan manapun, elu bisa mendapatkan penghasilan berapa?" Sesendok sayur bayam masuk kemulut saya. "Nah, kalau elu dibayar dibawah angka itu, maka elu dibayar terlalu murah. Jika tidak, artinya elu sudah mendapatkan bayaran yang layak."

Saya tahu bahwa gagasan ini agak kurang lazim. Tetapi anehnya, meskipun kita tidak puas dengan bayaran yang kita terima, kita masih juga bercokol disitu. Pertanda bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki dasar yang kuat untuk menuntut bayaran lebih dari itu. Sebab, jika kita benar-benar memiliki alternatif lain yang jauh lebih baik, tidaklah mungkin kita berdiam diri.

Mungkin, hengkang ketempat lain bisa jadi pilihan. Tidak aneh. Kalau perusahaan pesaing merekrut kita, pastilah mereka bersedia membayar ekstra dimuka. Karena, itu bagian dari strategy persaingan bisnis mereka. Kadang, perusahaan lama melakukan 'buy back' juga. Tapi hal ini tidak selalu bisa menggambarkan kemampuan dan kelayakbayaran kita sebagai individu secara utuh. Sebab, ada 'benchmark' disetiap industry. Artinya, selalu ada saat dimana gaji kita tidak bisa naik lagi kecuali kita layak untuk dipromosi kepada jabatan dan tugas yang lebih tinggi. Makanya, tidak aneh jika ada karyawan yang direkrut dengan bayaran awal yang tinggi, tapi kenaikan gaji berkalanya tak terlalu bermakna.

Sebaliknya, jika kita bisa menentukan; 'berapa pendapatan yang bisa kita hasilkan jika tidak bekerja untuk perusahaan manapun'. Maka kita akan bisa menentukan 'nilai' kita yang sesungguhnya. Misalnya, jika kita bisa menghasilkan 30 juta sebulan, maka kita bisa bernegosiasi dengan manajemen untuk mendapatkan bayaran yang sekurang-kurangnya setara dengan itu. Mengapa kita harus bertahan disana, jika bayarannya jauh lebih rendah dari yang bisa kita hasilkan sendiri? Namun, jika perusahaan sudah membayar kita lebih tinggi dari itu; kita tahu apa artinya itu, bukan?.

Sahabat saya menggugat: "Kalau gua bisa kerja sendiri ngapain gua disini? Dari dulu gua pasti sudah berhenti! Gua disini, karena gua nggak bisa kerja sendiri!" Betul. Disitulah point utamanya. Kita menyandarkan diri kepada perusahaan itu, tanpa ada alternatif lain yang lebih baik. Jika demikian situasinya, bukankah akan lebih baik jika kita berfokus kepada kontribusi yang bisa kita berikan ditempat kerja? Tanpa harus terlebih dahulu berhitung-hitung soal gaji. Sebab jika kita hanya bisa menjadi karyawan dengan prestasi rata-rata, mengapa perusahaan harus mengistimewakan kita? Sebaliknya, jika memang kita berprestasi sangat tinggi; tidaklah mungkin perusahaan menyia-nyiakan kita. Bahkan, kenaikan gaji 'tidak lazim' mungkin bisa kita terima tanpa terduga. Dan, jikapun perusahaan tempat kerja kita benar-benar menutup mata; masih banyak perusahaan baik yang bersedia mempekerjakan kita, dengan bayaran.

Random Post

Widget edited by Nauraku

Arsip Komentar

Free Image Hosting


 

Top Post

SUARA MERDEKA CYBERNEWS

detikInet