INGAT PERATURAN NO. 5!!

31 Maret 2009

Suatu hari Sang Guru sedang rapat dengan seorang rekan bisnisnya. Di tengah-tengah rapat, tiba-tiba seorang anak buah Sang Guru masuk ke ruang rapat sambil tersengal-sengal dan dengan kalut dia melaporkan sesuatu kepada Sang Guru.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Sepenanak nasi kemudian, seorang anak buah lainnya dari Sang Guru menginterupsi rapat dan dengan resah mengeluhkan suatu masalah yang tampaknya membuatnya berbeban berat.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Sejenak berlalu, lagi-lagi seorang anak buah yang lain dari Sang Guru menerobos ke ruang rapat dan dengan penuh kekesalan menyampaikan uneg-unegnya kepada Sang Guru.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Menyaksikan peristiwa itu, rekan bisnis Sang Guru tidak tahan lagi untuk mengungkapkan rasa penasarannya. Ia bertanya: "Apa sih peraturan nomor 5 itu?"

Sang Guru menjawab: "JANGAN SERIUS-SERIUS AMAT LAH."

"Ooo, itu peraturan yang bagus," ujar rekan bisnisnya seraya mengangguk-angguk, "lalu, apa bunyi peraturan-peraturan lainnya?"

"Nggak ada sih, itu aja!" sahut Sang Guru sambil tersenyum lebar.

Cerita di atas mengajarkan kepada kita banyak hal mengenai kelapangan hati. Dalam keseharian hidup, kita senantiasa berkecimpung dengan hal-hal yang membuat kita cemas dan kesal. Andaikata kita bisa meletakkan setiap permasalahan kita dalam perspektif yang benar-benar esensial dan bernilai, kita akan bisa berpikir dengan lebih jernih.

Sebuah studi menunjukkan bahwa "penyebab kecemasan" orang-orang adalah:

  1. Hal-hal yang tak pernah terjadi: 40%
  2. Hal-hal yang silam dan tak bisa diubah: 30%
  3. Perasaan takut sakit: 12%
  4. Hal-hal sepele atau kurang beralasan: 10%
  5. Masalah yang nyata/betulan: 8%

Jadi, survei membuktikan: 92% adalah kecemasan semu nan sia-sia!

Seiring dengan tumbuhnya kedewasaan spiritual kita, kita akan semakin menyadari kenyataan bahwa sehebat apa pun, kita dan segala atribut kita bukanlah pusat dari alam semesta. Dengan pemahaman ini, tatkala kita menghadapi kecemasan atau kekesalan, kita bisa mengingatkan diri bahwa apa yang terjadi pada kita bukanlah hal yang bersifat "personal".

Alam dan kehidupan berjalan secara tidak memihak. Semakin kita mampu menyelaraskan diri dengan jalannya kehidupan, akan semakin damai dan bahagialah kita. Kalau kita senantiasa ingat "peraturan nomor 5", kita akan lebih mudah untuk terus bangkit dan melenggang dalam segala terpaan hidup.

Be happy!




Ayahku Tukang Batu

29 Maret 2009

"Wo ba ba shi jian zhu gong ren"

Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan
kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.

Si putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebaga itukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayah bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya telah melukai hatinya.

Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Si putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung
diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh
Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu,"
keluhnya dalam hati.

Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.

Setelah sampai di taman, dengan raut penuh senyuman, si ayah
berkata, "Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu
dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang
batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin, dan
jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu,
lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri
dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut
membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat
ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini di
mana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini."

Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa
berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku,
ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu.
Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila
disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu
semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu."

Setelah mendengar semua penuturan sang ayah, si putri segera memeluk
ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri, Yah. Putri
salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalah
seorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun
berpelukan dalam suasana penuh keharuan.

Pembaca yang budiman,

Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar, materi, kedudukan,dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apayang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dankeadaan yang dipalsukan.

Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan was was, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.

Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik
seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan,
ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia.

Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hari ini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita hari
ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!

Salam Sukses Luar Biasa!!!!


Sumber: Ayahku Tukang Batu oleh Andrie Wongso






Syukur

25 Maret 2009


Puspa sangat senang ketika mengikuti acara ulang tahun perusahaan. Sebetulnya bukan hanya Puspa, semua orang juga senang. Salah satu acaranya adalah pembagian door prize. Door prize ini sangat menarik karena jumlahnya banyak. Semua orang pasti dapat. Dari handphone (HP), walkman, DVD player, hingga selimut, gelas, panci, jaket dan berbagai jenis barang lainnya.
Puspa sudah mengincar HP karena HP-nya sudah sering mati, sudah saatnya beli baru. Apalagi HP yang dijadikan door prize ada tiga unit. Berarti kesempatan makin besar kan?

Cara pembagian door prize berbagai macam, ada yang diundi, ada yang diberikan bagi yang bisa menjawab pertanyaan, dan sebagainya. Dua HP telah dibagikan secara diundi. Puspa masih mengharap untuk mendapatkan HP ketiga. Saat itu dikatakan bahwa HP ketiga akan diberikan kepada yang rumahnya paling jauh dari kantor. Puspa sangat gembira, rumahnya di Tangerang. Segera dia mengacungkan tangannya.

Pada saat bersamaan ada dua orang lain yang mengacungkan tangan. Yang satu tinggal di Ciputat, Jakarta Selatan, dan yang kedua tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pembawa acara menanyakan kepada para hadirin untuk menentukan mana yang rumahnya paling jauh. Beberapa orang memilih Puspa yang rumahnya paling jauh karena tinggal di Tangerang. Hampir semua orang setuju, Puspa sudah senang sekali.

Tapi tiba-tiba ada yang mengatakan bahwa sebenarnya yang di Tanjung Priok lebih jauh jaraknya. Tangerang memang bisa dikatakan luar Jakarta, tapi dari segi jarak, masih lebih jauh yang di Tanjung Priok. Hadirin lain ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Tapi karena lebih banyak yang setuju, akhirnya orang yang rumahnya di Tanjung Priok terpilih sebagai pemenang yang berhak mendapatkan HP.

Semua orang menganggap hal tersebut sebagai permainan saja. Tapi bagi Puspa, kejadian itu sangat mengecewakannya. Dia sangat kecewa dengan keputusan tersebut. Akhirnya Puspa mendapat sebuah selimut tebal. Puspa sangat kecewa.

Beberapa waktu kemudian, terjadilah hujan lebat selama beberapa hari di Jakarta sehingga beberapa daerah terkena banjir. Rumah Puspa kebetulan aman dari banjir. Tapi rumah karyawan yang tinggal di Tanjung Priok itu terlanda banjir. Untunglah seluruh anggota keluarganya sempat dievakuasi. Diselamatkan HP

Setelah kembali bekerja, dia bercerita bahwa door prize HP yang diperolehnya telah menyelamatkannya. Dengan HP tersebut dia bisa menghubungi sanak saudaranya sehingga mereka bisa minta bantuan tim penyelamat untuk mengevakuasinya dan seluruh anggota keluarga.
Mendengar hal ini, Puspa malu sendiri. Ternyata HP tersebut lebih berguna di tangan orang lain. Puspa malu pada dirinya sendiri. Bukankah dia bisa beli HP baru lagi asalkan mau menabung? Dia merasa harus bersyukur karena teman kerjanya terselamatkan oleh HP tersebut.
Kini Puspa bisa mensyukuri hadiahnya karena ternyata adiknya sakit dan menggigil akibat demam tinggi. Selimut tebal Puspa menjadi penyelamat sementara karena di rumah memang tidak ada selimut.

Ketika saya menjadi pembicara di salah satu public workshop, salah seorang peserta, seorang ibu, bercerita. Ibu ini mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga di rumahnya. Baru dua minggu bekerja, pembantu tersebut mengajukan satu pertanyaan yang mengejutkan.
Dia bertanya: "Bu, Ibu kok tiap hari pesta?". Tentu saja Ibu itu terkejut, dia tidak merasa mengadakan pesta di rumahnya. Apalagi pesta tiap hari. "Pesta? Pesta apa?", tanyanya heran. "Ibu tiap hari masak ayam. Itu kan pesta?", jawab pembantunya dengan polos. Tentu saja Ibu ini terkejut, tersentak, dan sekaligus terharu.

Hatinya tersentuh. Hampir menangis rasanya. Berarti, pembantu ini biasanya hanya makan ayam di saat pesta. Karena itu, pembantunya heran mengapa di tempatnya bekerja setiap hari masak ayam, mengapa setiap hari mengadakan pesta. Ibu ini hanya diam saja, tidak bisa berkata apa-apa, tidak bisa menjawab. Matanya berkaca-kaca.

Sambil menceritakan kisah inipun, mata beliau berkaca-kaca. Kisah tersebut membuat semua orang yang ada di ruangan itu, seluruh peserta public workshop termasuk saya yang menjadi pembicara, merasa tersentuh dan terharu, sekaligus merasa malu. Mata kami juga berkaca-kaca.



Salah seorang peserta mengaku merasa malu pada dirinya sendiri setelah mendengar kisah tersebut. Dia berkata: "Di rumah, anak-anak saya sering berkata Bosan ah. Makan ayam melulu.'' Padahal di luar sana, masih ada orang yang hanya makan ayam kalau pesta". "Kita harus belajar untuk bersyukur" kata salah seorang peserta lain. Semua setuju. Semua orang tergerak untuk mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Mensyukuri semua yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

Seorang ibu yang berusia 50 tahun selalu dikira baru berumur 30 tahun. Benar-benar awet muda. Ketika ditanya apa rahasianya, beliau menjawab:"Selalu bersyukur. Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Meskipun kita tidak menyadarinya." Betul sekali, Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua.


Be thankful! Give thanks for everything!

Sukses Wahyu Susilo Berbisnis Sedot Tinja

23 Maret 2009


Pria setengah baya bahkan cenderung tampak mendekati manula itu berpenampilan sederhana. Tak satupun penampilannya menarik perhatian orang. Apalagi jika kita tahu apa profesinya, sebagian besar orang akan memandangnya dengan sebelah mata.

Pria tersebut adalah Wahyu Susilo, kelahiran Solo 55 tahun silam. Profesinya adalah tukang sedot tinja di kota pahlawan Surabaya!! Pernahkah kita berpikir profesi yang menurut kita sedemikian kotor, bahkan mungkin kita bisa muntah bila melakukannya, merupakan profesi pilihan Pak Wahyu. Berawal dari pemikiran sederhana pada tahun 1975, saat WC di rumahnya mampet. Pak Wahyu telah memanggil tukang sedot tinja, tapi berhari-hari ditunggu tidak datang. Akhirnya Pak Wahyu memahami bahwa perusahaan jasa penyedotan tinja di Surabaya saat itu hanya ada 2, dan mereka sibuknya bukan main, dan peluang untuk usaha
tersebut masih terbuka lebar. Dengan mengesampingkan gengsi dan kejijikannya, Pak Wahyu bertekad membuka usaha di bidang penyedotan tinja. Untuk mewujudkan impiannya, Pak Wahyu mencoba mengorek informasi tentang bisnis ini. Ternyata truk tinja dan peralatannya membutuhkan dana 11 juta pada waktu itu. Dana yang sangat besar, sedangkan Pak Wahyu pada saat tersebut hanya sebagai sopir bemo. Karena tekadnya sudah bulat, beliau mengumpulkan uang yang dipunyai, termasuk menjual bemonya dan hanya terkumpul uang Rp 1 juta.

Akhirnya Pak Wahyu hanya mendapatkan truk Thames buatan tahun 1950 dan peralatan sedot tinja bekas yang diperbaiki, seharga Rp 750.000. Sisa uang Rp 250.000 digunakan untuk memasang telepon di rumahnya. Berdirilah PT. Tinja yang merupakan perusahaan jasa penyedotan tinja ke 3 di Surabaya.

Karena modal hanya pas-pasan Pak Wahyu terpaksa menjadi sopir sekaligus tukang sedot tinjanya. Istrinya ikut membantu di rumah dengan menerima order dan pembayaran. Semuanya dijalani dengan penuhkeyakinan tanpa rasa gengsi. Pernah suatu saat, Pak Wahyu sedang bertugas di rumah seorang dokter, kebetulan anak dokter tersebut sedang ngambek belajar, sang dokter bilang kepada anaknya, kalau tidak mau belajar nanti jadi seperti itu sambil menunjuk Pak Wahyuyang sedang menyedot tinja. Berbagai halangan beliau lalui, seperti
tetangganya protes karena bau dan lalat menyebar ke sekitarnya. PakWahyu akhirnya sampai pindah tempat. Usaha Pak Wahyu makin berkembang, armada truk yang tadinya 1 unit,
berkembang menjadi 10 unit pada tahun 1984.


Hotel itu dibangun dari kotoran manusia !

Pelanggannya antara lain sudah sampai hotel berbintang. Karena sering keluar masuk hotel elit itulah Pak Wahyu ingin sekali membangun sebuah hotel dan ingin menikmatinya. Keinginannya sempat ditertawakan beberapa kawannya, bagaimana seorang tukang sedot tinja mau membangun sebuah hotel? Akhirnya sebuah bank menawari pinjaman, dan Pak Wahyupun dengan modal pinjaman 11 milliar dan tabungan pribadi senilai Rp 2 Milliar, beliau mulai mewujudkan impiannya. Tanah seluas 1.2 ha pun dibelinya di seberang PT. Tinja dan dibangun hotel. Maka Pak Wahyu sekarang memiliki hotel bintang 3 dengan 154 kamar tidur dan diberi nama Hotel Satelit singkatan dari Sari Tinja Elit. Nama itu sengaja dipilih karena banyak orang awalnya tidak percaya dan mengejek beliau. Sampai sekarang hotelnya tidak pernah sepi dari pengunjung.

Bagi Pak Wahyu Susilo, kotoran manusia yang menurut kita najis, menjijikan bau dan sebagainya adalah emas lembek yang bisa jadi emas beneran. Sikap tekun dan tak pernah merasa malu itupun terus dibawanya walau Pak Wahyu sekarang sudah sukses. Di usia yang tidak lagi muda, Pak Wahyu meneruskan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Kartini dan Sekolah Tinggi Administrasi.

Saya yakin keadaan kita sekarang jauh lebih baik dari keadaan PakWahyu pada saat memulai bisnisnya, masihkah kita gengsi, dan takut mengerjakan tugas-tugas kita saat ini. Kesuksesan bukan ditentukan dari keadaan kita saat ini, tetapi karena sikap kita. Gengsi bukanlah diukur dari apa yang kita kerjakan sekarang, tetapi setelah apa yang kita kerjakan itu menghasilkan sesuatu yang patut dibanggakan, saat itulah kita menjadi bergengsi.

Semoga berguna dan sukses untuk kita semua.



Random Post

Widget edited by Nauraku

Arsip Komentar

Free Image Hosting


 

Top Post

SUARA MERDEKA CYBERNEWS

detikInet