The Power of Kepepet (Bag. 2)

24 Juni 2009

Ada 2 sebab yg membuat orang tdk tergerak untuk berubah.

  • Yang pertama adalah impiannya/ cita2nya kurang kuat,
  • Yang kedua tidak kepepet/tertekan.
Dua hal tersebut yang seringkali disebut orang sebagai motivasi. Kesalahan fatal yang timbul oleh sebagian besar motivator ataupun trainer motivasi lainnya adalah hanya menggunakan impian sebagai 'iming-iming' untuk menggerakkan audiens. "Apa Impian anda ? Siapa yang impiannya punya mobil mewah ? Rumah mewah ? atau bahkan kapal pesiar ?" Memang, saat di ruang seminar, mereka sangat terbawa dan termotivasi oleh sang motivator. Tapi masalahnya, sepulang dari seminar, mereka dihantam kemalasan, mungkin juga halangan-halangan bahkan seringkali oleh orang-orang yang mereka sayangi.
Apa jadinya ?
Mereka tetap diam ditempat.

MAU BERUBAH?


COBA CIPTAKAN KONDISI KEPEPET ANDA SENDIRI.

Coba amati biografi orang-orang sukses, banyak dari mereka yang 'kepepet' sebelumnya. Seperti pegas, saat kita tekan, maka akan menimbulkan gaya tolak yang lebih besar.

Trus, apa yang harus kita lakukan ?

Cara pertama untuk mengeluarkan 'potensi kepepet' kita, dengan cara menvisualisasikan (membayangkan) seolah-olah kita dalam kondisi kepepet, maka kita akan memfungsikan organ tubuh dan hormon-hormon kita, bekerja secara maksimal. Misalnya, bayangkan jika hari ini Anda di-Purnakaryakan, apa yang Anda rasakan ? atau dengan cara anda bayangkan kalo besok anda tidak punya uang sepeserpun !
Bagaimana anda memenuhi kebutuhan keluarga?

Cara kedua, menciptakan kondisi kepepet secara fisik.

Misalnya dengan berhutang untuk modal usaha, secara otomatis akan membuat kita termotivasi untuk mengembalikan hutang. Atau, bisa juga kita terima orderan langsung, meskipun usaha belum mulai.
Semua itu pilihan Anda lho, jangan salahkan saya untuk risikonya.
Tergantung dari karakter masing-masing orang.
Namun jangan lupa, Integritas dan Kredibilitas tetap harus dijaga.

Cara manapun yang akan Anda pilih, yang penting
MELANGKAH UNTUK LEBIH MAJU, jangan kebanyakan mikir atau sekedar membaca tulisan ini.

Karena kehidupan Anda tidak akan berubah hanya dengan mengikuti seminar atau membaca, tapi dengan ACTION.

"Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah".


PASTI BISA..!

Baca dulu The Power of Kepepet Bag 1

Susu Sapi Bukan Untuk Manusia

16 Juni 2009


Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu – kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi ti­dak akan minum susu. Mengapa manusia seper­ti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

"Itu gara-gara pabrik susu yang terus meng­iklankan produknya," ujar Prof Dr Hiromi Shi­nya, penulis buku yang sangat laris: The Mira­cle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.


Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung menga­lir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita.

Aki­bat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat.


Begitu sampai di usus, susu tersebut lang­sung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Un­tuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa menge­luar­kan cadangan "enzim induk" yang seha­rus­nya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mu­dah terkena osteoporosis.


Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sen­sasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dia­lah dokter pertama di dunia yang melakukan ope­rasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah me­me­riksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama kariernya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.


Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiro­mi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus de­ngan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak ber­mu­tu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.


Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/mi­nu­man yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bi­sul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sa­ngat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.


Karena tugas usus adalah menyerap maka­nan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau ma­kanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bu­kan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Aki­batnya, per­tumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas ber­mun­cu­lan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti da­ging, bisa menyisakan kotoran yang menem­pel di din­ding usus: menjadi tinja stagnan yang kemu­dian membusuk dan me­nimbulkan penyakit lagi.


Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomen­da­sikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 per­sen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.


Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.


Dia juga menyebut contoh harimau yang ha­nya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.


Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, kata­nya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, un­tuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang le­bih penting agar di mulut makanan bisa ber­cam­pur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, se­baiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.


Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga me­nganjurkan agar setelah makan sebaiknya ja­ngan tidur sebelum empat atau lima jam ke­mu­­dian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.


Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah ter­tentu yang tersimpan di dalam "lumbung en­zim-induk". Enzim-induk ini setiap hari dike­luarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah men­jadi berbagai macam enzim sesuai keper­luan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lum­bung enzim-induk. Mati, menurut dia, ada­lah habisnya enzim di lumbung masing-masing.


Maka untuk bisa berumur panjang, awet mu­da, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah meng­hemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan ma­ka­nan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.


Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digo­reng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, me­ngolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.

Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu ba­nyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Mem­buangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.


Prof Hiromi sendiri secara konsekuen men­jalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 ta­hun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Se­bab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.


Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga mene­rapkan "pengobatan" seperti itu. Pasien-pa­sien penyakit usus, termasuk kanker usus, ba­nyak dia selesaikan dengan "pengobatan" ala­miah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari sa­tu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh se­cara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dok­ter spesialis lain. Pendidikan dokter spe­sia­lis­lah yang menghancurkan ilmu kedok­te­ran yang sesungguhnya.


Saya mencoba mengikuti saran buku ini se­bulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.


Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya se­nang. Kalau hatinya sudah senang dan pi­kirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk ber­tambah. Nah... gan pei!


Sumber : Catatan Dahlan Iskan


Tangan Terkepal

13 Juni 2009


Apa yang dapat kita lakukan dengan tangan terkepal?

- Meneriakkan yel-yel yang bersemangat
- Memukul (benda, angin atau orang)
- Olah raga adu panco
- Olah raga yang sejenis dengan tinju
- Mengancam orang
- Meluapkan emosi pada momentum kemenangan (olah raga, ujian, wawancara, tender, tuntas pekerjaan dll)


KEMUDIAN.....


Apa pula yang dapat Anda lakukan dengan tangan terbuka?

- Berdoa
- Meminta
- Menjelaskan
- Bersalaman
- Menuntun (anak belajar jalan, jompo menyeberang jalan dll)
- Memegang
- Tepuk tangan
- Melambai
- Membelai rambut istri atau anak
- Memijit suami atau istri
- Menghormat

Saya, mampu menuliskan kegunaan tangan terbuka lebih dari 100 buah. Tapi, untuk menemukan 6 saja kegunaan tangan terkepal, saya telah memeras pikiran. Bagaimana dengan Anda?

Jika tangan Anda sedang terkepal, Anda akan kesulitan untuk memberi, kecuali memberikan pukulan - pada olah raga tinju misalnya. Pada saat ini, Anda sedang fokus pada apa yang Anda rasakan, sehingga relatif tidak siap untuk memberi ataupun menerima. Terkait euphoria EURO 2008, bahkan pada tangan terkepal saat perayaan mencetak gol, Podolski tidak terlalu memperdulikan pelukan, rangkulan, pujian atau ucapan terima kasih dari sesamanya.

Mungkin, pada hampir keseluruhan aktivitas dengan tangan terkepal; semua pribadi sedang tenggelam dalam emosi ke-aku-annya.
Jujur saja, tidak banyak hal yang dapat kita lakukan, jika kita sangat sibuk dengan ke-aku-an kita. Dunia modern yang dicirikan dengan networking, korporasi, koordinasi, negosiasi, koperasi; menuntut kita untuk selalu mempertimbangkan dengan cermat aspek di luar kita, bukan ke-aku-an kita. Tidak akan ada negosiasi yang menyenangkan banyak pihak, jika perasaan atau kepentingan kita tidak bisa dikompromikan.

So, sebagian besar kehidupan ini ternyata memerlukan : tangan terbuka!

Tetapi mohon Anda merenungkan lebih dalam bahwa, tangan terbuka tidak lebih mendamaikan kehidupan dibandingkan dengan hati terbuka. Kemudian, Anda akan menemukan bahwa kehidupan ini, lebih membutuhkan hati terbuka Anda lebih banyak dibandingkan tangan terbuka Anda.

Bagaimana dengan kelapangan pada hidup ini?
Karena luas dan dalamnya hati itu tak terbatasi oleh ukuran dimensi fisik, maka Anda akan terheran-heran dengan keajaiban indahnya kehidupan pada pribadi dengan hati yang terbuka. Mohon untuk Anda sadari, sesungguhnya hati yang dirasa sempit itu, bukan karena luasan hati yang sempit, melainkan Anda (atau Yang Maha Kuasa) menutupkan sesuatu pada pintunya.

Anda tidak mungkin bersalaman dengan tangan terkepal (Indira Gandhi).

Bersalaman, apapun juga tujuannya (bermaafan, bekerja sama, melepas kerinduan dll), seyogyanya merupakan perpaduan manis antara tangan terbuka dan hati terbuka. Kehadiran salah satunya, tidak akan mendatangkan manfaat yang optimal. Anda tidak bisa memaafkan seseorang dengan tangan yang terbuka saja. Juga Anda tidak bisa mendatangkan kebaikan yang banyak, jika Anda sibuk memaafkan orang lain tanpa mau mengulurkan tangan terbuka Anda untuk bersalaman. Orang lain, tetap saja membutuhkan tangan terbuka Anda.

Tapi mohon Anda tidak lekas curiga. Tetaplah menyambut uluran tangan terbuka bagi sebuah harapan persahabatan yang tulus. Karena harapan yang baik, akan menaburi hati-hati yang terkuncupkan - untuk merekah dengan perlahan pada saat musimnya tiba.

Anjuran terbaiknya adalah : ulurkan tangan terbuka sebagai tanda terbukanya hati Anda, pada siapa pun.

Terima kasih yang dalam atas kesediaan menerima sudut pandang di atas.
Selamat menikmati jamuan akhir pekan terindah dari Yang Maha Penyayang.

Sumber : syarifniskala.wordpress.com

Kisah Besi dan Air

09 Juni 2009

Ada dua benda yang bersahabat karib yaitu besi dan air. Besi seringkali berbangga akan dirinya sendiri. Ia sering menyombong kepada sahabatnya :" Lihat ini aku, kuat dan keras. Aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak " Air hanya diam saja mendengar tingkah sahabatnya.

Suatu hari besi menantang air berlomba untuk menembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada di sana . Aturannya : "Barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka maka ia akan dinyatakan menang" Besi dan air pun mulai berlomba :


Rintangan pertama mereka ialah mereka harus melalui penjaga gua itu yaitu batu-batu yang sangat keras dan tajam. Besi mulai menunjukkan kekuatannya, Dia menabrakkan dirinya ke batu-batuan itu. Tetapi karena kekerasannya batu-batuan itu mulai runtuh menyerangnya dan besipun banyak terluka di sana sini karena melawan batu-batuan itu.Air melakukan tugasnya ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan itu, ia lembut mengikis bebatuan itu sehingga bebatuan lainnya tidak terganggu dan tidak menyadarinya, Dia hanya melubangi seperlunya saja untuk lewat tetapi tidak merusak lainnya. Score air dan besi 1 : 0 ntuk rintangan ini.

Rintangan kedua mereka ialah mereka harus melalui berbagai celah sempit untuk tiba di dasar gua. Besi merasakan kekuatannya, Dia mengubah dirinya menjadi mata bor yang kuat dan ia mulai berputar untuk menembus celah-celah itu. Tetapi celah-celah itu ternyata cukup sulit untuk ditembus, semakin keras ia berputar memang celah itu semakin hancur tetapi iapun juga semakin terluka.
Air dengan santainya merubah dirinya mengikuti bentuk celah-celah itu. Ia mengalir santai dan karena bentuknya yang bisa berubah ia bisa dengan leluasa tanpa terluka mengalir melalui celah-celah itu dan tiba dengan cepat didasar gua. Score air dan besi 2 : 0

Rintangan ketiga ialah mereka harus dapat melewati suatu lembah dan tiba di luar gua besi kesulitan mengatasi rintangan ini. Dia tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya ia berkata kepada air : "Score kita 2 : 0, aku akan mengakui kehebatanmu jika engkau dapat melalui rintangan terakhir ini !"Airpun segera menggenang sebenarnya dia pun kesulitan mengatasi rintangan ini, tetapi kemudian dia

membiarkan sang matahari membantunya untuk menguap. Dia terbang dengan ringan menjadi awan, kemudian dia meminta bantuan angin untuk meniupnya kesebarang dan mengembunkannya. Maka air turun sebagai hujan. Air menang telak atas besi dengan score 3 : 0.

Jadikanlah hidup kita seperti air. Dia dapat memperoleh sesuatu dengan kelembutannya tanpa merusak dan mengacaukan karena dengan sedikit demi sedikit dia bergerak tetapi dia dapat menembus bebatuan yang keras. Ingat hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan. Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.

Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, dia flexibel dan tidak kaku karena itu dia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia. Air tidak putus asa, Ia tetap mengalir meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Ia tidak putus asa. Dan sekalipun si air mengalami suatu kemustahilan ntuk mengatasi masalahnya, padanya masih dikaruniakan kemampuan untuk merubah diri menjadi uap.

Walau memang kenyataannya kekerasan juga masih dominan sebagai pilihan pada beberapa manusia
yang berkesempatan, ... ???!!!


Random Post

Widget edited by Nauraku

Arsip Komentar

Free Image Hosting


 

Top Post

SUARA MERDEKA CYBERNEWS

detikInet